[Resensi K-Drama] Assembly: Integritas, Prinsip, dan Harapan

Assembly_(Korean_Drama)-p1
source: asianwiki.com

“Politik adalah sedikit pekerjaan yang bisa mengubah dunia, baik perubahan kecil maupun besar.” – Choi In-kyung

Assembly menceritakan tentang Jin Sang-pil (Jung Jae-young) yang diberhentikan dari pekerjaannya sebagai tukang las di perusahaan perbaikan kapal Korea. Sang-pil yang bertindak sebagai juru bicara serikat pekerja bersama rekan-rekannya yang juga diberhentikan berjuang untuk pemulihan mereka. Singkat cerita, Sang-pil dipilih untuk menjadi calon anggota dewan konstituen Gyeongjae. Sang-pil merupakan pribadi yang pemberani dan berbudi, namun begitu naif, tidak berkompeten, dan tidak memiliki pengalaman dalam bidang politik.

Keputusan Sang-pil dalam menerima tawaran Sekretaris Jenderal Partai Gookmin dan pemimpin faksi pro-blue house, Baek Do-hyun (Jang Hyun-sung), untuk menjadi calon anggota dewan dari Partai Gookmin daripada mengikuti saran rekan seperjuangannya, Bae Dal-soo (Son Byong-ho), telah membuat hubungannya dengan sekelompok rekannya menjadi buruk, bahkan beberapa orang membencinya.

Kematian Dal-soo telah membuat Sang-pil terpuruk dan merasa bersalah. Namun, kematian Dal-soo pula yang membuatnya bangkit dan kembali memenuhi tugasnya sebagai anggota dewan. Kim Gyu-hwan (Ok Taecyeon) yang merupakan anak Dal-soo menaruh dendam pada Sang-pil dan ingin membalas perbuatan Sang-pil yang menurutnya adalah penyebab ayahnya meninggal. Gyu-hwan kemudian melamar sebagai sekretaris anggota dewan dan perlahan-lahan pandangannya tentang Sang-pil dan politik berubah.

Hanya Choi In-kyung (Song Yoon-ah) yang dapat melunakkan Anggota Dewan Jin setiap kali ia lepas kendali dan yang bisa memberikan strategi-strategi politik terbaik untuk Anggota Dewan Jin. Keberhasilan yang dicapai Anggota Dewan Jin Sang-pil bukan cuma berkat kemampuannya, tetapi juga andil dan kesolidan orang-orang yang ada di sampingnya. Terlebih setelah satu anggota dewan yang semula adalah lawannya bergabung dalam faksinya dan menjadi teman.

Lanjutkan membaca “[Resensi K-Drama] Assembly: Integritas, Prinsip, dan Harapan”

Iklan

[Resensi Film] Sunny (2011)

Source: google

Judul Film: Sunny (써니/Sseoni)

Pemeran: Shim Eun-kyung, Kang So-ra, Yoo Ho-jeong, Jin Hee-kyung

Sutradara: Kang Hyeong-cheol

Penulis Skenario: Kang Hyeong-cheol

Tahun Rilis: 2011

Durasi: 124 menit

“Hidup ini terlalu singkat untuk hidup tanpa impian.”

Film Korea bergenre drama komedi keluaran tahun 2011 berdurasi 135 menit ini mengisahkan tentang Im Na-mi (Shim Eun-kyung), murid SMA pindahan dari Beolgyo, Jeolla-do. Aksen daerah yang berbeda dan sangat kental membuatnya menjadi bahan tertawaan murid-murid lain. Tidak jarang Na-mi menjadi korban bully teman-temannya. Tidak seperti murid kebanyakan, Ha Chun-hwa (Kang So-ra)—pemimpin geng yang terkenal di sekolah—senang dengan kehadiran Na-mi. Setiap kali Na-mi di-bully, Chun-hwa dan anggota gengnya tidak segan-segan menolongnya. Suatu ketika ada satu kejadian yang membuat mereka dikeluarkan dari sekolah dan terpisahkan selama 25 tahun.

Lanjutkan membaca “[Resensi Film] Sunny (2011)”

[Resensi Film] Genius (2016)

Source: http://www.impawards.com

Judul Film: Genius

Pemeran: Colin Firth, Jude Law, Nicole Kidman, Dominic West, Guy Pearce

Sutradara: Michael Grandage

Penulis Skenario: John Logan

Tahun Produksi: 2016

Durasi: 103 menit

Jumlah halaman tidak penting. Menyampaikan cerita yang penting.

Kita bukanlah karakter yang kita inginkan. Kita adalah karakter sebenarnya.

“Ide yang layak ditulis adalah tentang ide-ide besar. Ide yang besar, kurangi bicara.”

Genius adalah sebuah film drama biografi yang diadaptasi dari novel berjudul Max Perkins: Editor of Genius karya A. Scott Berg. Film Amerika Serikat-Inggris produksi tahun 2016 berdurasi 103 menit ini mengisahkan tentang hubungan profesional antara seorang penulis yang berasal dari Amerika bagian utara bernama Thomas Wolfe (Jude Law) dan Maxwell Perkins (Colin Firth),  kepala editor di perusahaan penerbitan buku bernama Scribner di Kota New York, Amerika. Naskah autobiografi yang ditulis oleh Thomas sempat ditolak di banyak penerbit sebelum kemudian diterbitkan oleh Scribner. Max sebagai editor mencoba membaca naskah unik milik Thomas tersebut hingga akhirnya memutuskan untuk menerbitkannya.

Lanjutkan membaca “[Resensi Film] Genius (2016)”

[Resensi Film] Only Yesterday (1991)

Judul Film: Only Yesterday (1991)

Pemeran/Pengisi Suara: Miki Imai, Toshirō Yanagiba, Yōko Honna (Japanese); Daisy Ridley, Dev Patel, Alison Fernandez (English)

Karakter: Taeko, Toshio, Abe-kun, Tsuneko Tani, dll

Sutradara: Isao Takahata

Penulis Skenario: Isao Takahata

Perusahaan Produksi: Studio Ghibli

Tahun Produksi: 1991

Durasi: 118 menit

“Hujan atau mendung atau cerah yang mana yang kau suka?” – Hirota

“Suka atau tidak, sebelum menjadi kupu-kupu, pertama-tama harus jadi ulat dulu sebelum dapat terbang tinggi.” – Taeko

“Boleh jadi diriku yang kelas 5 SD yang selama ini mengikuti membawa sebuah pesan padaku untuk berkaca dan menata kembali hidupku.” – Taeko

“Hidupku tidak bergantung dengan pekerjaan tapi aku juga tidak membencinya.” – Taeko

“Wanita tidak pernah memahami perasaan laki-laki.” – Toshio

Only Yesterday (Omoide Poro Poro) adalah film drama animasi Jepang yang dirilis pada 20 Juli 1991 yang ditulis dan disutradarai oleh Isao Takahata berdasarkan manga dengan judul yang sama karya Hotaru Okamoto dan Yuko Tone. Film berdurasi dua jam ini bercerita tentang seorang wanita pekerja kantoran berusia 27 tahun bernama Okajima Taeko (Miki Imai/Daisy Ridley) yang mengambil cuti 10 hari untuk berlibur ke Yamagata; sebuah desa yang pernah dikunjunginya sewaktu masih kecil. Di sana ia merasa bahagia dan merasa seperti berada di rumahnya sendiri. Selama perjalanannya ia bernostalgia dengan kenangan masa kecilnya sewaktu tinggal di Tokyo, khususnya kenangan di rumah dan saat duduk di bangku 5 SD. Kenangan-kenangan yang menurut saya paling membekas bagi Taeko. Kenangan yang bisa membuatnya kembali berpikir mengenai hidupnya.

Ada adegan yang akan membuat kita berpikir bahwa apa yang terlihat tidak selalu seperti apa yang kita pikirkan atau bayangkan sebelumnya. Untuk itu kita harus bisa menerimanya. Suka ataupun tidak suka. Selain itu, film ini mengajarkan kita untuk bersyukur atas apa pun yang kita dapat dan punya. Secara garis besar, Only Yesterday mengangkat tema seputar kehidupan pertanian di desa, keluarga, pertemanan, cinta masa kecil, dan soal jodoh. Inti yang saya tangkap dari cerita ini adalah perlunya mengikuti suara hati. Karena hatilah yang betul-betul tahu apa yang kita inginkan.

Lanjutkan membaca “[Resensi Film] Only Yesterday (1991)”

[Puisi] 32 Desember

Bila saat ini tak bersama,
maka selamanya tanpa kita

Source: weheartit.com

letup di kelam angkasa
tebar kilau warna-warni
usailah sudah,
batinku

riuh di sesak manusia
bunyi-ucap saling sahut
redamlah duka,
pintaku

teringat katamu
bila saat ini tak bersama,
maka selamanya tanpa kita

teringat katamu
bila ada sehari tersisa,
maka besar harapan jumpa

andai akhir terhenti
di angka tiga puluh dua

PIJE & Launa Rissadia
Medan-Bandung, 25 Desember 2016

[Puisi] Muara Bahagia

Sumber ilustrasi: koranjogja.blogspot.com
Sumber ilustrasi: koranjogja.blogspot.com

Sadar hanyut lagi
Terbawa arus hening
Mengapung tak pasti
Dipeluk asa

Sadar bentur lagi
Bongkahan kisah lalu
Tambah biru hati
Didera rindu

Sadar karam lagi
Pun masih tak paham
Mengira dasar ilusi
Muara bahagia

PIJE & Launa Rissadia
Medan-Bandung, 11 September 2016