[Movie Review] Sunny (2011)

Source: google

Judul Film: Sunny (써니/Sseoni)

Pemeran: Shim Eun-kyung, Kang So-ra, Yoo Ho-jeong, Jin Hee-kyung

Sutradara: Kang Hyeong-cheol

Penulis Skenario: Kang Hyeong-cheol

Tahun Rilis: 2011

Durasi: 124 menit

“Hidup ini terlalu singkat untuk hidup tanpa impian.”

Film Korea bergenre drama komedi keluaran tahun 2011 berdurasi 135 menit ini mengisahkan tentang Im Na-mi (Shim Eun-kyung), murid SMA pindahan dari Beolgyo, Jeolla-do. Aksen daerah yang berbeda dan sangat kental membuatnya menjadi bahan tertawaan murid-murid lain. Tidak jarang Na-mi menjadi korban bully teman-temannya. Tidak seperti murid kebanyakan, Ha Chun-hwa (Kang So-ra)—pemimpin geng yang terkenal di sekolah—senang dengan kehadiran Na-mi. Setiap kali Na-mi di-bully, Chun-hwa dan anggota gengnya tidak segan-segan menolongnya. Suatu ketika ada satu kejadian yang membuat mereka dikeluarkan dari sekolah dan terpisahkan selama 25 tahun.

Baca lebih lanjut

[Movie Review] Genius (2016)

Judul Film: Genius

Pemeran: Colin Firth, Jude Law, Nicole Kidman, Dominic West, Guy Pearce

Sutradara: Michael Grandage

Penulis Skenario: John Logan

Tahun Produksi: 2016

Durasi: 103 menit

Jumlah halaman tidak penting. Menyampaikan cerita yang penting.

Kita bukanlah karakter yang kita inginkan. Kita adalah karakter sebenarnya.

“Ide yang layak ditulis adalah tentang ide-ide besar. Ide yang besar, kurangi bicara.”

Genius adalah sebuah film drama biografi yang diadaptasi dari novel berjudul Max Perkins: Editor of Genius karya A. Scott Berg. Film Amerika Serikat-Inggris produksi tahun 2016 berdurasi 103 menit ini mengisahkan tentang hubungan profesional antara seorang penulis yang berasal dari Amerika bagian utara bernama Thomas Wolfe (Jude Law) dan Maxwell Perkins (Colin Firth),  kepala editor di perusahaan penerbitan buku bernama Scribner di Kota New York, Amerika. Naskah autobiografi yang ditulis oleh Thomas sempat ditolak di banyak penerbit sebelum kemudian diterbitkan oleh Scribner. Max sebagai editor mencoba membaca naskah unik milik Thomas tersebut hingga akhirnya memutuskan untuk menerbitkannya.

Baca lebih lanjut

[Movie Review] Only Yesterday (1991)

Judul Film: Only Yesterday (1991)

Pemeran/Pengisi Suara: Miki Imai, Toshirō Yanagiba, Yōko Honna (Japanese); Daisy Ridley, Dev Patel, Alison Fernandez (English)

Karakter: Taeko, Toshio, Abe-kun, Tsuneko Tani, dll

Sutradara: Isao Takahata

Penulis Skenario: Isao Takahata

Perusahaan Produksi: Studio Ghibli

Tahun Produksi: 1991

Durasi: 118 menit

“Hujan atau mendung atau cerah yang mana yang kau suka?” – Hirota

“Suka atau tidak, sebelum menjadi kupu-kupu, pertama-tama harus jadi ulat dulu sebelum dapat terbang tinggi.” – Taeko

“Boleh jadi diriku yang kelas 5 SD yang selama ini mengikuti membawa sebuah pesan padaku untuk berkaca dan menata kembali hidupku.” – Taeko

“Hidupku tidak bergantung dengan pekerjaan tapi aku juga tidak membencinya.” – Taeko

“Wanita tidak pernah memahami perasaan laki-laki.” – Toshio

Only Yesterday (Omoide Poro Poro) adalah film drama animasi Jepang yang dirilis pada 20 Juli 1991 yang ditulis dan disutradarai oleh Isao Takahata berdasarkan manga dengan judul yang sama karya Hotaru Okamoto dan Yuko Tone. Film berdurasi dua jam ini bercerita tentang seorang wanita pekerja kantoran berusia 27 tahun bernama Okajima Taeko (Miki Imai/Daisy Ridley) yang mengambil cuti 10 hari untuk berlibur ke Yamagata; sebuah desa yang pernah dikunjunginya sewaktu masih kecil. Di sana ia merasa bahagia dan merasa seperti berada di rumahnya sendiri. Selama perjalanannya ia bernostalgia dengan kenangan masa kecilnya sewaktu tinggal di Tokyo, khususnya kenangan di rumah dan saat duduk di bangku 5 SD. Kenangan-kenangan yang menurut saya paling membekas bagi Taeko. Kenangan yang bisa membuatnya kembali berpikir mengenai hidupnya.

Ada adegan yang akan membuat kita berpikir bahwa apa yang terlihat tidak selalu seperti apa yang kita pikirkan atau bayangkan sebelumnya. Untuk itu kita harus bisa menerimanya. Suka ataupun tidak suka. Selain itu, film ini mengajarkan kita untuk bersyukur atas apa pun yang kita dapat dan punya. Secara garis besar, Only Yesterday mengangkat tema seputar kehidupan pertanian di desa, keluarga, pertemanan, cinta masa kecil, dan soal jodoh. Inti yang saya tangkap dari cerita ini adalah perlunya mengikuti suara hati. Karena hatilah yang betul-betul tahu apa yang kita inginkan.

Baca lebih lanjut

[Una’s Journal] Revolusi Diri

1451536987263

Tidak terasa tahun 2016 telah berlalu. Satu tahun yang cukup melelahkan dan tentu saja berkesan sekaligus menyenangkan buat saya. Dalam posting-an pertama tahun ini, saya mau sedikit bercerita tentang Revolusi Diri 2016 yang pernah saya bikin akhir tahun 2015 lalu bersama beberapa teman di Komunitas Pecandu Buku. Gambar di atas adalah 10 revolusi diri tersebut; di luar lima revolusi tambahan yang saya sebutkan di caption Instagram. Sebagian besar tidak terealisasi, dan ada yang terealisasi hanya setengah, ada pula yang benar-benar terwujud. Oke tanpa berlama-lama, saya akan me-review-nya satu per satu.

  1. Lagi-lagi belum terealisasi karena saya masih terjebak dalam kemalasan dan kebingungan. Duh. *toyor kepala sendiri*
  2. Belum terwujud. Ini merupakan hal yang mau tidak mau harus kami tunda dulu karena sedikitnya waktu yang kami miliki dan tema yang memerlukan cukup banyak keseriusan. Meskipun sebetulnya saat itu sedang kami kerjakan.
  3. Gagal karena satu dan lain hal.
  4. Alhamdulillaah dua posisi tersebut terealisasi.
  5. Dibilang gagal juga tidak karena tahun kemarin saya menulis beberapa puisi (bisa dicari dengan hashtag #CoretanUna di Instagram) meski tidak rutin setiap minggu.
  6. Ah, ini. Ini mungkin salah satu revolusi yang entah kapan bakal terealisasi. Kenapa? Karena saya adalah tipe perempuan yang tidak mudah jatuh hati pada seseorang. Kemarin saya sempat jatuh hati, namun sepertinya tidak sepenuhnya jatuh sehingga revolusi keenam ini tidak berhasil saya coret.
  7. Tidak berhasil dikarenakan waktu membaca yang sedikit.
  8. Hmm … lagi-lagi gagal. Rahasia Sang Ibu Negara adalah buku yang sudah dua tahun belum selesai saya baca karena membosankan. Mengingat utang review yang mesti saya berikan, tahun ini saya berencana akan menamatkannya.
  9. Bisa dibilang terealisasi setengah meski waktunya tidak tentu.
  10. Tidak berhasil karena saya selalu bingung mau menulis apa. Klise, ya? *toyor kepala sendiri*

Kelima revolusi tambahan lainnya pun hanya setengah berjalan. Ya, begitulah hasil dari revolusi diri saya tahun lalu. Sejak bulan November 2016 saya merenungi banyak hal dan menyadari sesuatu terkait diri saya sendiri. Ternyata saya merasa tidak cocok dan kurang bebas melakukan sesuatu hal bila berpatokan dengan banyak target dalam setahun. Jujur, setelah dijalani ternyata cukup memberi beban pada diri saya. Semakin mendekati akhir tahun, saya malah lelah dan terbebani. Pun saya merasa dengan menyusun revolusi diri seperti itu justru membuat saya terbatasi dan tidak enjoy dalam melakukan segala hal. Karena itu, tahun ini saya tidak membuat revolusi diri lagi. Saya memilih untuk menjadi diri saya beberapa tahun lalu yang ketika melakukan target-target kecil setiap harinya dan berhasil, saya menikmatinya dan tanpa beban sama sekali. Target besar tetap ada dan hanya satu-dua. Tahun ini yang jelas saya ingin melakukan segala sesuatunya dari hati, dengan enjoy, dan tidak terbebani oleh hukuman atau apa pun. Karena menurut saya hukuman hanya akan membuat seseorang, khususnya saya, merasa terpaksa mengerjakan hal yang mau dikerjakan. Untuk hukuman tahun lalu, biarlah itu menjadi urusan saya sendiri. Selamat tahun baru 2017. Semoga segala harapan bisa terwujud dan kebahagiaan mendatangimu selalu. 🙂

[Puisi] 32 Desember

Source: weheartit.com

Source: weheartit.com

letup di kelam angkasa
tebar kilau warna-warni
usailah sudah,
batinku

riuh di sesak manusia
bunyi-ucap saling sahut
redamlah duka,
pintaku

teringat katamu
bila saat ini tak bersama,
maka selamanya tanpa kita

teringat katamu
bila ada sehari tersisa,
maka besar harapan jumpa

andai akhir terhenti
di angka tiga puluh dua

PIJE & Launa Rissadia
Medan-Bandung, 25 Desember 2016

[Una’s Journal] Merawat Ingatan

p_20161223_172836_1-01

Setiap tempat yang pernah kita kunjungi pasti memiliki cerita dan kesan. Terlepas dari dengan siapa kamu menghabiskan waktu di tempat tersebut. Bukan begitu? 🙂 Banyak sekali tempat maupun benda yang terkadang mengingatkan saya akan sebuah momen atau seseorang. Untuk kali ini, ada satu tempat yang mengembalikan saya pada memori empat tahun lalu.

Setiap melewati hotel ini saya selalu teringat dengan momen yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Di mana saya bersemuka dengan editor plus (salah satu) penulis favorit saya, Bambang Trim, untuk pertama kalinya. Grogi sudah pasti. Terlebih pertemuan kami kala itu adalah untuk membahas naskah saya yang hendak beliau terbitkan di bawah penerbitan miliknya. Tak tanggung-tanggung beliau pula yang menjadi editornya. Tidak usah ditanya bagaimana perasaan saya saat itu. Sudah tentu amat senang dan merasa beruntung sekali. Bagaimana tidak, buku Setetes Motivasi Kecil dapat lahir berkat dirinya. Beliaulah yang mengusulkan untuk membukukan tulisan singkat saya perihal motivasi setelah mengunjungi blog pribadi saya. Kok bisa, sih, beliau ‘main-main’ ke blog saya? Itu pun ada ceritanya, dan akan selalu tersimpan dengan baik dalam ingatan saya. Kapan-kapan saya ceritakan, ya.

Baca lebih lanjut