Respon, Feedback, Juara


20121216-125525.jpg

“Feedback is the breakfast of champions.” – Ken Blanchard

Mengutip pernyataan Ken Blanchard di atas, benar adanya bahwa feedback atau yang biasa kita sebut masukan merupakan sarapan seorang juara. Bahkan, menurutku tak hanya sekadar sarapan. Tetapi merupakan makanan sehari-harinya para juara. Mengapa? Sebab, nampak jelas meski mereka sudah menjadi juara dan dielu-elukan oleh banyak orang, tak sedikit pula orang yang mengumpat dan kurang menyukai mereka.

Para juara dekat sekali dengan feedback. Terlebih feedback yang negatif. Sebagian orang cenderung tak suka bila ada orang lain yang jauh lebih berhasil dibandingkan dirinya. Kembali ke pembahasan, tidak ada satu pun orang yang tak pernah memberi atau menerima masukan. Semua orang pasti pernah. Hanya saja yang membedakan antara orang satu dengan lainnya adalah bagaimana cara mereka merespon feedback yang datang — baik negatif maupun positif.

Contoh: temanmu memberi masukan mengenai dandananmu yang sedikit berlebihan saat mau jalan-jalan.
Kamu enggak salah dandan kaya gitu? Menurutku agak berlebihan. Kan kita cuma mau jalan-jalan ke mall doang.
Dari contoh di atas, ada tiga respon yang bisa muncul. Tiga respon tersebut akan aku bahas pada bagian akhir artikel.

Dulu sebelum aku tahu respon apa saja yang harus dihindari tatkala menghadapi sebuah feedback, saat menerima sebuah masukan dan aku pikir masukan tersebut tidal terlalu penting, aku tak mengindahkannya. Namun, ketika aku tahu bahwa responku tersebut salah, aku pun berpikir, “Wah ternyata salah toh. Berarti selama ini tindakan aku salah dong.” Kejadian itulah yang membuat aku terus mencoba dan berusaha untuk tidak mengulanginya kembali hingga kini.

Meski kita sering atau mungkin jarang mendapat feedback, kadang-kadang tanpa sadar kita salah dalam merespon masukan yang kita peroleh. Terdapat tiga respon yang salah yang sebisa mungkin harus kita hindari bila mendapat masukan. Tiga respon tersebut yaitu: (The Success Principles for TeensJack Canfield & Kent Healy)

Menyerah dan berhenti
Untuk respon yang satu ini aku yakin pasti banyak yang melakukannya. Ketika seseorang memberi masukan apalagi masukan negatif, kebanyakan si penerima masukan cepat putus akal dan kemudian berhenti. Padahal, masukan tersebut hanyalah informasi dan arah belaka yang dapat membantu mendekatkan juga mengarahkannya pada tujuannya, serta membuatnya menjadi lebih baik.

Jika terus-terusan seperti itu maka kita tak ‘kan pernah sampai ke tujuan kita. Kita akan diam di suatu tempat dan terus menerus mendengar masukan semacam itu — masukan yang jelas sekali tidak ingin kita dengar. Jika ingin cepat mencapai tujuanmu, maka hadapilah masukan negatif tersebut jangan pernah berlabuh.

Respon untuk contoh di atas, misalnya: “Aah ya sudah deh kalau gitu aku enggak jadi ikut jalan-jalan. Kamu pergi sama yang lain saja.
Hanya karena feedback macam itu kau langsung bete dan mood kau untuk jalan-jalan langsung lenyap. Padahal tinggal kau bersihkan saja sedikit make-up kau dan kau tetap bisa jalan-jalan.

Marah pada sumber masukan
Secara tak sadar terkadang kita pun pasti pernah marah pada sumber masukan. Entah itu langsung ataupun hanya dalam hati, dua-duanya tidak ada manfaatnya. Seperti misalnya respon untuk contoh di atas, “Apaan sih, siapa juga yang minta pendapat kamu.” atau “Apa sih yang dandan juga aku kok kamu yang ribet.” atau di dalam hati bilang seperti ini: “Ih ikut campur aja deh kamu. Mending urusi aja dirimu sendiri. Kaya dandanan kamu oke aja.

Dengan tindakan atau reaksi sebangsa itu kita hanya akan menghabiskan energi kita. Energi yang pastinya bisa kita gunakan untuk hal-hal lainnya yang jauh lebih penting. Yang perlu disadari adalah apapun jenis masukan tersebut, kita tak perlu menempatkannya ke dalam hati. Sebab feedback adalah sebuah informasi belaka.

Tidak mengindahkan/mendengarkan masukan
Nah ini respon yang sama parahnya dengan kedua respon sebelumnya. Yang perlu dipertanyakan adalah, apakah dengan tidak mengindahkan masukan kita bisa bertambah maju? Jawabannya adalah tidak. Bisa jadi masukan yang diindahkan adalah masukan yang dapat membantu mereka menjadi lebih baik lagi.

Untuk contoh di atas, responnya bisa saja seperti ini: “Aah biarin saja dandanan aku begini. Toh yang dandan aku bukan kamu. Jadi enggak usah urusi dandananku.
Padahal teman kau itu bermaksud baik. Dia tak ingin kau menjadi bahan tontonan atau bahan pembicaraan orang saat di mall hanya karena dandanan kau yang sedikit berlebihan.

Sayangnya sebagian orang sering salah dalam merespon sebuah feedback. Aku pun dulu begitu. Memang respon kita saat menerima masukan itu bebas. Tapi tak ada salahnya untuk kita belajar merespon sebuah masukan dengan lebih baik dari sebelumnya. Agar kita tak salah arah dalam mencapai tujuan kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s