[Book Review] Konspirasi Alam Semesta by Fiersa Besari


Konspirasi Alam SemestaJudul Buku: Konspirasi Alam Semesta

Penulis: Fiersa Besari

Penerbit: More Creative House Production

Cetakan 1: Juli 2015

Bahasa: Indonesia

ISBN: –

Halaman: 118 halaman

Harga Albook: Rp 80.000,- (sudah termasuk album Konspirasi Alam Semesta)

Rating: 4/5

Review

Konspirasi Alam Semesta (Kolase) merupakan karya teranyar berbentuk albook dari seorang musisi indie Bandung bernama Fiersa Besari. Sebuah album yang berisikan empat belas lagu, yang mana keempat belas lagu tersebut tergambar dalam buku—dengan judul yang sama—yang berisikan cerita-cerita yang berkelanjutan. Kolase adalah albook yang enggak cuma bertemakan tentang percintaan, tetapi juga tentang kawan, keluarga, perjuangan dan perjalanan.

Buku ini berkisah tentang seorang jurnalis bernama Juang Astrajingga yang jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Ana Tidae. Perjumpaan mereka yang tak disengaja telah membuat hati Juang enggak tenang. Dan bukanlah hal yang mudah bagi Juang untuk dapat menjadi kekasih Ana. Banyak hal yang dialami oleh mereka untuk dapat bersatu. Kisah dua tokoh utama dalam buku ini amat menginspirasi dan mengajarkan saya banyak hal.

Waktu awal baca saya enggak mikir kalau Juang itu penulis sendiri. Tapi, setelah menemukan kata-kata Ruangan Imajinasi, saya jadi membayangkan kalau Juang itu si penulis. Bagi sebagian orang yang tahu Ruangan Imajinasi itu apa, mungkin akan berpikir hal yang sama. Alasan lain saya adalah karena cara Juang ‘berbicara’ sama seperti tulisan-tulisan yang pernah penulis buat. Entah itu tweets, caption di Instagram, atau status di LINE (dulu). Apalagi ditambah adanya syair di tiap-tiap bab yang bikin saya memposisikan Juang itu penulis sendiri. Namun, terkadang saya juga merasa kalau Juang itu ada, dan bukan si penulis.

“Namun, ‘rasa’ memang punya jalannya sendiri. Ia tak serta-merta hadir untuk diutarakan. Kadang, ‘rasa’ hanya untuk dinikmati dalam kesendirian, denga setumpuk harapan.” –  Bab Konspirasi Alam Semesta halaman 7

“Beberapa rindu memang harus dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirimkan lewat doa.” – Bab Kau halaman 12

“Masa lalu, sepahit apapun itu, bukanlah untuk dilupakan, melainkan untuk diingat dengan persepsi yang tidak menyakitkan. – Bab Juara Kedua halaman 21

Saya suka gaya bahasa penulis yang adem, santai tapi enggak membosankan, enak dibaca, mengalir, dan bikin terhanyut dalam cerita. Bikin penasaran dengan kelanjutan-kelanjutan ceritanya. Pesan terakhir Juang seolah-olah benar-benar seperti pesan terakhir darinya, dan Juang enggak akan pernah kembali. Baru baca sampai bab Rumah saja sudah banyak pertanyaan yang muncul di benak saya. Kenapa dengan Ana? Ana punya penyakit apa? Apa yang terjadi sama Juang? Juang sebenarnya pergi ke mana? Apa ke kampung persembunyian untuk meliput? Bagaimana dengan kisah percintaan mereka? Ya, itulah beberapa pertanyaan yang melintas di kepala saya. Semakin ke belakang, semakin membuat penasaran.

“Dan satu wajah itu muncul di malamku, diam di sela-sela berlian yang bertaburan di lautan angkasa. Dari kejauhan dapat kulihat ia tersenyum, mengatakan bahwa ia akan selalu menungguku pulang untuk mengecup keningnya. Membuatku sadar: cintanya yang seluas samudera telah menuntunku pada ujung pengasingan.” – Bab Telapak Kaki Hlm. 64

Bab Telapak Kaki adalah bab pertama yang membuat saya berkaca-kaca ketika membacanya. Penuturan penulis mampu membuat tersentuh dan enggak berlebihan. Penuturan yang sederhana, namun begitu terasa sampai ke hati. Membuat saya jadi memikirkan ibu sendiri dan merenungi apa saja hal-hal yang belum dan sudah saya lakukan untuknya. Meski saya tahu, enggak ada satu hal pun yang bisa menggantikan pengorbanannya selama ini.

Di bab Nadir dan paragraf pembuka bab Hingga Napas Ini Habis, ada pengulangan kalimat yang sama. Menurut saya, semestinya penulis bisa menggunakan kalimat lain dengan maksud yang sama. Karena itu akan terkesan lebih sedap dibacanya dibandingkan dengan adanya pengulangan kalimat yang sama. Seolah-olah penulis enggak punya lagi kalimat lain yang bisa diutarakan, kecuali memang ada alasan atau maksud di balik adanya pengulangan kalimat tersebut.

“Sepasang manusia tidak lagi ditakdirkan untuk jatuh cinta, mereka berjalan di dalamnya. Mensyukuri detakan jantung mempercepat, menikmati detikan jam melambat. Hingga entah kapan Tuhan berkenan mempersatukan mereka. Dan kebahagiaan, meski tak lama menetap, tetaplah kebahagiaan.” – bab Tanpa Karena Hlm. 102

Semakin ke belakang, semakin menyebalkan. Kenapa? Karena penulis berhasil mengacak-acak perasaan saya sebagai pembaca. Di satu bab dibikin senang, kemudian di bab lain dibikin ‘terjatuh’. Begitu terus. Seakan-akan penulis sudah merusak perasaan yang saya bangun selama membaca Kolase. Baca Kolase rasanya campur aduk. Senangnya ada. Kesalnya ada. Sedihnya ada. Terlebih ketika membaca bab Lembayung dan Epilog. Baca kedua bab itu benar-benar bikin sesak. Enggak dibaca salah, dibaca juga salah. Enggak salah-salah banget, sih. Tapi, ya begitulah (nanti kamu akan memahami apa yang saya tulis di sini kalau sudah sampai bab tersebut). Kedua bab tersebut yang jelas bikin saya menitikkan air mata dan ingus siap keluar dari lubang hidung (walaupun ditahan-tahan karena ada adik saya yang lagi tidur, haha).

Penjabaran tokoh-tokoh dan setting-nya terasa begitu nyata. Kalau di dunia ini ada Juang kedua, saya tak ‘kan menolak untuk menjadi seseorang yang terus berdampingan dengannya. Ah, tokoh Juang ini bikin saya mengkhayal tingkat nasional. #naon Intinya, Kolase patut dibaca. Kolase bakal bikin perasaan kamu diaduk-aduk. Ending-nya enggak terduga bangetlah pokoknya. Pesan saya, jangan berani menebak-nebak karena tebakanmu pasti keliru, seperti saya. 😀 Salut buat penulis karena sudah membuat cerita yang amat terasa nyata dan ‘kaya’ akan pesan.

Iklan

14 thoughts on “[Book Review] Konspirasi Alam Semesta by Fiersa Besari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s