Delapan Kesalahan Naskah Fiksi Pemula by @clara_ng


Credit: senjaya.net

Photo Credit: senjaya.net

Artikel ini adalah artikel yang sempat tertunda lama untuk saya tulis, he. 😀 Tadi saya iseng membuka lagi folder tip menulis yang berisikan file-file tip menulis dari berbagai sumber yang ada di netbook saya. Dulu saya memang berniat mau membaginya di sini. Ya, sekaligus sebagai back up kalau nanti file-nya tidak bisa dibuka atau saya lupa menyimpannya di mana. Jadi, saya cukup membuka blog saya saja kalau mau membacanya lagi, hehe.

Saya mendapat ilmu baru ini (kalau tidak salah) dari Twitter-nya Clara Ng, empat tahun lalu. Di Twitter saya mem-follow cukup banyak penulis Indonesia yang suka berbagi pengalaman pun ilmunya seputar dunia tulis-menulis. Nah, salah satunya adalah penulis favorit saya, Clara Ng. Di samping saya memang senang meng-copy paste-nya ke Ms. Word, kadang juga saya merangkumnya di Chirpstory saya. Ya, lagi-lagi hanya agar kelak bisa saya baca kembali.

Sebagai penulis pemula sudah tentu kita suka bingung bagaimana membuat naskah yang baik, atau kita tidak tahu di mana letak kesalahan yang ada pada naskah kita. Saya pun masih sering merasakan hal yang sama kok. Alhamdulillaah dari ilmu yang pernah dibagikan Clara Ng―juga penulis-penulis lainnya―saya bisa (terus) belajar membuat tulisan yang menarik.

Berikut delapan kesalahan naskah fiksi pemula menurut Clara Ng:

  1. Ketiadaan konflik.

Banyak sekali naskah fiksi gagal yang tidak punya konflik di dalam ceritanya. Konflik itu apa? Konflik adalah perlawanan atas sesuatu yang diperjuangkan oleh si karakter. Konflik adalah arus balik. Fiksi bersandar pada konflik, bukan pada “konsep cerita”. Konsep cerita sekeren apapun bakal hancur tanpa adanya konflik. Konflik adalah nyawa. Seperti tangga, konflik bertahap, dari tangga bawah ke atas. Konflik juga seperti bayi, bertumbuh. Konflik yang stagnan dan begitu-begitu saja bikin fiksi mati.

2. Pembukaan yang lemah.

Pembukaan lemah artinya pembukaan yang tidak memperlihatkan konflik. Konflik seharusnya sudah membayang muncul di pembukaan (prolog). Pembukaan yang salah adalah pembukaan yang mengabaikan/menahan konflik. Karena konflik sudah menghantui pembukaan dari awal naskah, maka penyelesaiannya pun harus kuat.

3. Penyelesaian konflik yang lemah.

Lemah artinya konflik yang dibangun hanya selapis tipis.

4. Penyelesaian konflik yang lemah disebabkan oleh tokoh yang tidak berjuang, tapi dapat pertolongan.

Tokoh harus berjuang menyelesaikan masalahnya. “Mendapat pertolongan” artinya memasukkan tokoh/situasi lain yang langsung menyelamatkan dia. Tokoh utama boleh “mendapat pertolongan” dalam situasi yang “indirect” alias tidak langsung, tapi penyelamatannya BUKAN dengan “diserobot”. Untuk bahasa awam, ini sering disebut dengan aksi “kebetulan”. Kebetulan dalam fiksi bisa saja terjadi, tapi kebetulan yang lebay adalah “aksi serobot”.

5. Dialog yang garing.

Dialog bertele-tele. Dialog haha-hihi-hehe. Dialog ke sana kemari. Semua dialog jenis itu membuat fiksi tidak bergerak ke mana-mana. Humor dalam dialog boleh, tapi humor pun punya rumusnya. Ada pembukaan, ada tengah, ada kick-ass-nya. Tanpa itu, humor mati dalam dialog.

6. Kalimat-kalimat yang tidak patuh pada aturan Bahasa Indonesia.

Kita semua harus belajar bahasa Indonesia dimulai dari yang paling sederhana: SPOK atau KSPO; (Subyek, Predikat, Obyek, Keterangan).

7. Tanda baca yang tidak pada tempatnya.

Kesewenang-wenangan dalam tanda baca bisa menjadi bukti bahwa kita adalah manusia ugal-ugalan dalam menyetir. Kenapa? Hehe, karena tanda baca = rambu lalu lintas. Penulis fiksi yang tak peduli dengan peletakkan tanda kutip, koma, titik, titik tiga, titik koma dan lain-lain akan membuat naskah fiksi jadi rusak.

8. Setting yang terlupakan. Isi cerita hanya dialog.

Apa itu setting? Setting adalah keadaan cerita, dari lingkungan sampai suasana. Tanpa kehadiran setting, cerita bakal gatot (gagal total).

NB:

*Konflik utama bisa satu atau dua, sisanya konflik-konflik minor.
*Beda konflik dengan konsep cerita: konflik adalah tantangan dari keinginan tokoh. Konsep semacam pembungkus fiksi.

Yak, itulah delapan kesalahan naskah fiksi pemula menurut Clara Ng. Terima kasih ilmunya, Kak Clara! 🙂 Semoga artikelnya bermanfaat, ya, Guys. Tetap semangat menulis. ^^

Iklan

2 thoughts on “Delapan Kesalahan Naskah Fiksi Pemula by @clara_ng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s