[Puisi] 32 Desember

Bila saat ini tak bersama,
maka selamanya tanpa kita

Iklan
Source: weheartit.com
Source: weheartit.com

letup di kelam angkasa
tebar kilau warna-warni
usailah sudah,
batinku

riuh di sesak manusia
bunyi-ucap saling sahut
redamlah duka,
pintaku

teringat katamu
bila saat ini tak bersama,
maka selamanya tanpa kita

teringat katamu
bila ada sehari tersisa,
maka besar harapan jumpa

andai akhir terhenti
di angka tiga puluh dua

PIJE & Launa Rissadia
Medan-Bandung, 25 Desember 2016

[Puisi] Sebutlah Rindu

20160531_054540Semesta pikiran
Hadirkan rindu
Mewujud sesosok rupa
Inginku berjumpa

Apa daya hidup
Pisahkan ruang
Harapku lantunan doa
Mulus menujumu

Launa Rissadia & PIJE
Bandung-Medan, 20 November 2016

[Puisi] Muara Bahagia

Sumber ilustrasi: koranjogja.blogspot.com
Sumber ilustrasi: koranjogja.blogspot.com

Sadar hanyut lagi
Terbawa arus hening
Mengapung tak pasti
Dipeluk asa

Sadar bentur lagi
Bongkahan kisah lalu
Tambah biru hati
Didera rindu

Sadar karam lagi
Pun masih tak paham
Mengira dasar ilusi
Muara bahagia

PIJE & Launa Rissadia
Medan-Bandung, 11 September 2016

[Puisi] Wanita dan Ranjang

Sumber ilustrasi: The Artitode
Sumber ilustrasi: The Artitode

Cahaya rembulan masuk dari celah jendela
yang membuat kemolekan tubuhmu
semakin menjadi-jadi. Nafsuku mendekap
punggungmu menuju titik keindahan
dua tonjolan di dada.

Jemarimu bermain dengan amat lincah
melepas kebahagiaan sekujur tubuhku.
Nafasmu yang menggiurkan telah mendobrak pagar pertahanan,
membuatku terhanyut menuju Elysium
dan merasakan keheningan lainnya.

Wanita dan ranjang
di mana ada cinta, nafsu, sentuhan, dekapan.
Keringat juga cumbu mesra;
berahi yang terbayarkan.

Nafsu adalah jalan menuju Elysium, katamu.
Kataku, cinta adalah jubah yang kita kenakan.
Sentuhan adalah rasa takjub akan kemolekan, katamu.
Kataku, dekapan adalah gerbang menuju ketenangan.

Muh. Dandy & Launa Rissadia
Malang – Bandung | 11 Oktober 2016